20120403155607033.jpg

Seorang Perempuan Gagal Menyelundupkan Barang Haram ke Lapas Lowokwaru

Tutik Pujiasih , tersangka yang harus berurusan dengan Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kota Malang. Ia terciduk saat menyelundupkan lima kaplet berisi 50 butir pil kategori daftar G, Triphexyphenidyl, ketika hendak membesuk narapidana Nurhadi yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Lowokwaru, Kota Malang, Selasa (17/10).

 

“Perempuan itu sengaja memakai celana dalam (CD) dobel rangkap tiga. Pada CD lapisan pertama hanya diberi pampers. Tetapi pada CD lapisan kedua diberi tisu yang di dalamnya disisipkan dua kaplet berisi 20 butir pil Triphexyphenidyl. Sedang CD terdalam atau ketiga disisipkan tiga emplek pil yang sama berisi 30 butir, sehingga total ada 50 butir pil daftar G,” ujar  Kepala Keamanan Lapas Kelas 1 Lowokwaru Kota Malang, Sarwito dalam keterangannya kepada wartawan usai melimpahkan penanganan Tutik Pujiasih kepada Satresnakoba Polres Malang Kota, Selasa.

 

Lebih lanjut dikemukakan Sarwito, bahwa pengakuan sementara Tutik, saat itu ia ingin menjenguk Nurhadi, seorang napi kasus senjata tajam  yang harus menjalani hukuman majelis hakim Pengadilan Negeri  Kabupaten Malang di Kepanjen, selama satu tahun 10 bulan penjara. “Napi satu ini dihukum cukup berat karena sempat kabur bersama beberapa rekannya ketika masih berstatus tersangka dari ruang tahanan Mapolres Kota Malang, beberapa waktu yang lalu,” kata Sarwito.

 

Ketika Tutik harus melewati alat deteksi sinar X atau Xray security scanner di pintu masuk ruang besuk Lapas, alat tersebut menunjukkan sesuatu yang ganjil di dalam CD yang dikenakannya. Karena dinilai ada yang mencurigakan, terpaksa dilakukan pemeriksaan manual oleh petugas keamanan perempuan di ruang periksa. Tanpa kesulitan petugas menemukan barang-barang terlarang itu dari CD Tutik.

 

“Pengakuan sementara Tutik ke petugas keamanan Lapas, pil sebanyak lima emplek itu merupakan titipan seseorang yang ia temui depan toko swalayan di Jalan Letjen Sutoyo, Kota Malang, tidak jauh dari Lapas,” ujar Sarwito. Saat itu dia mengaku diberi upah uang tunai Rp 200.000 untuk mengantar barang tersebut masuk ke dalam lapas. Ia dijanjikan akan diberi tambahan Rp 300.000 jika sudah berhasil menyerahkan barang itu kepada napi Nurhadi.

 

Ketika Tutik berhasil diamankan petugas keamanan Lapas, ia sengaja dicoba untuk menunjukkan penitip barang yang semula disebut-sebut menunggu di dekat pagar ruang tunggu luar Lapas. Namun upaya menyingkap keberadaan lelaki yang mengaku teman Nurhadi itu disebutkan Tutik, tidak ada di tempat semula yang dijanjikan.

 

Karena upaya memancing si penitip barang tidak membuahkan hasil, Sarwito langsung berkoordinasi dengan Satreskoba Polres Malang Kota.

“Ya ini, selanjutnya Tutik kita limpahkan penanganannya ke Satresnarkoba Polres Malang Kota untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut,” ujar Sarwito. Ia juga membenarkan, bahwa napi Nurhadi yang diperiksa secara terpisah di dalam Lapas mengaku mengenal Tutik namun ia menolak memesan pil daftar G tersebut.

 

“Jadi antara napi Nurhadi dengan pembesuk Tutik, keduanya saling mengenal. Hanya saja Nurhadi mengakunya tidak pernah memesan pil tersebut,” tandas Sarwito. Ada dugaan, pil-pil tersebut jika berhasil diselundupkan akan diperjualbelikan kepada sesama napi di dalam sel tahanan dalam Lapas. [ARS]