xrayindonesia_baggageinspection_cargoinspection_walkthrough_handheld.jpg

Transportasi Udara, Jalur Favorit Para Bandar Narkoba

Tahun ini sudah empat kalinya kasus penyelundupan narkotika jenis sabu berhasil digagalkan petugas Aviation Security (Avsec) Bandara Juwata Tarakan. Pengiriman sabu melalui transportasi udara menjadi jalur yang banyak digunakan dipilih bandar narkoba untuk mengirimkan barang haram tersebut.

 

Petinggi  BNN Tarakan, Agus Surya Dewi mengatakan jalur udara sering digunakan para bandar narkoba sebab melalui jalur udara paling cepat mengantarkan barang haram itu bisa sampai ke tangan pemesan.

 

“Lewat udara itu lebih cepat dibandingkan melalui jalur laut yang butuh waktu beberapa hari sampai ke tempat tujuan,” tutur Dewi sapaan akrabnya, Senin (13/11).

 

Dewi mengapresiasi kesigapan petugas Avsec yang selama ini menjadi bagian dari pemberantasan narkoba. Menurutnya anggota Avsec bandara memiliki insting yang sangat baik, terutama saat mencurigai calon penumpang yang dianggap memiliki gerak-gerik mencurigakan.

 

Penggunaan alat keamanan lengkapun sangat membantu dengan adanya mesin xray baggage inspection, Cargo Inspection, walk through metal detector dan hand held metal detector . Mesin ini beran penting dalam pemeriksaan barang dan tentunya membuat bandar narkotika menjadi grogi dan petugas Avsec pun langsung memeriksanya.

 

Lebih lanjut Dewi menjelaskan, Kota Makassar menjadi salah satu kota tujuan utama para bandar narkoba yang menyeludupkan barang haramnya. Dikarenakan jumlah permintaan di Kota Daeng itu terbesar di kawasan Indonesia Timur.

 

“Bila sudah tiba di kota Makassar barang tersebut dikirim lagi ke beberapa daerah yang ada di Sulawesi, bahkan terkadang didistribusikan ke Surabaya juga melalui Makassar,” beber perempuan asal Malang itu.

 

Tidak hanya lewat jalur udara saja yang menjadi fokus BNN dalam memberantas narkoba, jalur laut juga perlu diwaspadai. Sebab terdapat 160 titik pelabuhan tikus di Bumi Paguntaka, yang rawan dijadikan tempat penyelundupan narkoba.

 

“Untuk pelabuhan resmi sudah ada Bea Cukai yang melakukan pengawasan, tapi untuk pelabuhan tikus yang tersebar di pesisir Tarakan sulit untuk mengawasinya karena jumlahnya banyak,” ungkap Dewi.

 

Sejauh ini BNN Tarakan selain bekerja sama dengan TNI dan Polri, juga bekerja sama dengan berbagai institusi lainnya dalam memerangi narkoba. “BNN Tarakan terus bersinergi dengan institusi lain dalam membrantas narkoba, hal ini dibuktikan beberapa kali berhasil mengungkap kasus bersama instansi lain yang jumlahnya tidak hanya gram-an tapi sampai kiloan,” ucapnya.

 

Sebelumnya, Kepala Bandara Juwata Tarakan, Hemi Pamuraharjo memastikan akan meningkatkan kinerja pengamanan seluruh petugas Avsec di bandara terbesar se- Kaltara itu.

 

“Ke depannya petugas Avsec akan kami berikan apresiasi dalam bentuk diklat kompetensi yang menunjang dalam pekerjaan mereka,” ucapnya.

 

Dalam menunjang kinerja para Avsec, saat ini Bandara Juwata Tarakan fokus meningkatkan kemampuan dalam membedakan penumpang biasa dengan penumpang yang membawa sesuatu mencurigakan atau passenger profiling.

 

“Dengan ditingkatkan kemampuannya diharapkan dapat lebih jeli lagi ketika memeriksa penumpang dan barang bawaannya,” ucap Hemi.

 

Dari empat kali pengungkapan kasus narkoba di bandara, rata-rata para pelaku menggunakan modus operandi yang merekatkan barang haram tersebut di anggota tubuh. Untungnya dengan kejelian para petugas Avsec hal tersebut bisa terungkap.

 

“Selain peningkatan kemampuan Avsec, fasilitas yang ada saat ini juga akan kami benahi, nantinya kami akan menempatkan alat yang lebih sensitif lagi,” ujarnya.