c60526dc-e942-4b06-8b2d-9e5112be61ef_169.jpg

50 Ribu Minuman Keras Berhasil Digagalkan Petugas

Xray industrial, Xray medical, Xray security scanner, Xray baggage inspection, Xray Cargo inspection, Liquid inspection, Cargo inspection, Baggage inspection, Vehicle inspection, Metal detector, Hand held metal detector, walk through metal detector, perusahaan security, security system, Xray container

 

 

 

 

 

Penyelundupan 50 ribu lebih botol minuman haram yang mengandung etil alkohol dari Singapura berhasil digagalkan petugas gabungan. Pelaku menggunakan modus baru dalam upaya penyelundupan barang haram tersebut.

 

"Intelijen Polri dan Bea-Cukai di lapangan memperoleh banyak informasi bahwa di kota Batam akan ada pengiriman barang yang akan mereka kelabui petugas seakan-akan ini adalah barang antarpulau," ujar Direktur Jenderal Bea-Cukai Heru Pambudi kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (18/9/2017).

 

Barang impor tersebut masuk melalui jalur intersuler. Dari Pelabuhan Tanjung Pinang, kontainer yang mengangkut total 53.927 botol minol itu kemudian dibawa kapal Meratus Sibolga ke Pelabuhan Tanjung Priok.

 

"Mereka masuk ke sini, pertama masuk 3 kontainer yang positif terbukti berisi minuman mengandung etil alkohol. Tiga kontainer ini mereka campur-baurkan dengan--paling tidak enam kontainer lainnya--satu shipment ada isi tiga, ada yang tidak berisi minuman ada tiga," jelasnya.

 

Setiba kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, tim dari Subdit Industri Perdagangan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya dan Bea-Cukai kemudian memeriksa kontainer tersebut dengan mesin Xray Container.

 

"Tim kita melakukan penangkapan dengan proses identifikasi dulu dengan mesin Xray Container, setelah positif baru kita lakukan penangkapan," imbuhnya.

 

Selain tiga kontainer berisi 53.927 botol minuman alkohol di Pelabuhan Tanjung Priok, petugas gabungan mengamankan dua kontainer yang juga berisi ribuan botol minuman haram.

 

"Modus yang mereka pakai adalah menghindari impor langsung karena, dengan penertiban borongan ini, mereka merasa semakin sempit sehingga menggunakan jalur lain, yaitu menggunakan jalur antarpulau," terangnya.

 

Modus kedua, pelaku menyelundupkan barang dengan mengkamuflase botol minol dengan plastik sampah. "Tetapi jangan lupa, kegiatan intelijen kita bagus dan alat-alat yang kita miliki juga bagus, di situ kita menggunakan mesin Xray Container sehingga diketahui ada botol miras," lanjutnya.

 

Nilai dari 53.927 botol minuman keras berbagai merek tersebut adalah Rp 26,3 miliar. Jika menggunakan proses jalur impor resmi, pelaku seharusnya membayar pajak dan bea masuk senilai Rp 53,9 miliar.

 

"Kalau ditotal Rp 26,3 miliar ditambah Rp 53,9 miliar, yaitu senilai hampir Rp 80 miliar. Potensi inilah yang hilang dari penerimaan negara," ucapnya.

 

Lebih jauh, Heru mengatakan, penyelundupan barang impor berisiko tinggi ini menimbulkan persaingan yang tidak sehat. "Tentunya ini menjadi penyebab persaingan tidak sehat dengan importir yang mau mengimpor secara legal. Satu sisi kita berantas penyelundupan secara sinergis dan sisi lain kita melindungi pelaku usaha yang legal," sambungnya.

 

Sementara itu, Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Adi Deriyan mengatakan pihaknya dan Bea-Cukai masih mendalami kasus ini untuk menangkap pembeli barang haram minuman keras tersebut. "Untuk pembelinya siapa dan pemesannya siapa, itu masih kami selidiki terus bersama pihak Bea-Cukai," ujar Adi.