mirip-koper-mesin-ketik-diisi-sembilan-jenis-logam.jpg

Mengenal Object Test Piece, Alat Uji X-Ray di Bandara Sepinggan

Bekerja selama hampir 24 jam setiap hari, akurasi mesin x-radiation (x-ray ) di bandara bisa saja berkurang. Agar kualitas tetap terjaga, object test piece (OTP) memainkan peran penting. 

 

PETUGAS Aviation Security (Avsec) Bandara Sepinggan Balikpapan adalah salah satu pihak yang terbiasa menggunakan x-ray security system  sebagai alat bantu kerja. Kecanggihan teknologi tersebut mampu memperjelas gambar dan jenis benda sesungguhnya. Sehingga, kualitas dan kinerja x-ray security system harus terus terpantau. Agar tidak ada sedikit pun barang berbahaya yang kecolongan dan lolos dari x-ray security system .

 

Airport Security Department Head, Bandara Sepinggan Selamat Riyadi menjelaskan, ada sebuah alat khusus untuk menguji kualitas x-ray . Yakni, object test piece (OTP). Nantinya, petugas Avsec akan bertugas melalukan daily check terhadap x-ray security scanner  di bandara. Kegiatan uji coba x-ray security scanner tersebut dilakukan setiap dini hari. Sekitar pukul 03.00 Wita, tepat sebelum Bandara Sepinggan resmi beroperasi di pagi harinya.

 

X-ray security scanner atau security system  bekerja hampir 24 jam, alat itu hanya punya waktu istirahat malam hari setelah operasi bandara berakhir pukul 22.00 Wita. Sehingga penting untuk terus mengontrol kondisi x-ray security scanner atau security system  setiap hari. Kami harus cek performance, sensitivitas, dan penetrasi x-ray,” sebutnya.

 

Selamat kemudian menunjukkan bagaimana penampakan alat tersebut. Tampilan OTP layaknya seperti koper mesin ketik. Namun di dalamnya telah berisi segala macam bentuk dan ketebalan logam. Dia mengatakan, beragam logam tersebut tolak ukur x-ray . Terdapat sekitar sembilan tes logam berada dalam OTP.

 

“Kalau ternyata ada logam dari OTP yang tidak bisa terdeteksi tampilannya, berarti kualitas x-ray  berkurang. Bisa terlihat apa x-ray  tersebut masih layak pakai atau tidak untuk beroperasi,” sebutnya.

 

Selamat menuturkan, pemeriksaan dengan wire (kawat) menjadi yang tersulit agar terlihat di x-ray . Terdapat beragam ukuran wire. Mulai dari ukuran 24-32 yang masih harus dilapisi logam dengan ketebalan sekitar 9,5-22 milimeter. Dengan begitu, setiap benda yang memiliki kabel atau wire dapat terlihat dari pantauan x-ray.

 

Misalnya untuk mendeteksi keberadaan alat setrum berbentuk handphone.“Kabel-kabel pemicunya bisa terdeteksi dari x-ray . Barang seperti ini jadi perhatian dan butuh kejelian petugas. Setiap ada temuan baru, kami sering uji ke dalam x-ray agar petugas familiar jika bertemu dengan benda seperti itu lagi,” tuturnya.

 

Selain OTP, ada pula alat uji bernama Metal Detection Calibration Set. Sebuah perlengkapan khusus untuk mendeteksi barang berbahan metal. Bentuknya sama dengan OTP. Seperti koper hitam yang berisi berbagai metal dengan ketebalan yang berbeda.

 

Alat tersebut digunakan untuk menguji gawang detektor logam atau wall trough metal detector (WTMD). Teknologi x-ray  memiliki fitur-fitur untuk mendeteksi barang dengan warna. Benda berbahan metal dapat terlacak dan tampil dengan kode berwarna biru di monitor x-ray . Selamat mengatakan, semakin pekat warnanya berarti ketebalan metal tinggi.

 

Sedangkan benda yang berasal dari organik akan terlihat berwarna cokelat. Kemudian warna hijau untuk benda non-organik. Menurutnya, justru yang susah yakni mendeteksi bahan organik. Karena bentuknya kerap disamarkan dari bentuk aslinya.“Rencananya kami akan membeli beberapa set perangkat OTP 2017 mendatang. Alat uji ini memang ada yang dijual satu paket dengan x-ray  dan ada yang dijual terpisah,” ujarnya.

 

Seluruh rangkaian tes pemeriksaan harian itu sudah sesuai standar persyaratan yang ketat. Hal itu membuktikan bahwa setiap alat yang digunakan dalam operasional keamanan penerbangan telah diverifikasi. Tentunya, memenuhi persyaratan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

 

“Petugas Avsec setiap pagi harus melakukan uji x-ray itu. Bahkan ada yang bertugas untuk tanda tangan sebagai bentuk tanggung jawab kalau x-ray  tersebut layak operasi,” imbuhnya. Dengan bantuan dua monitor, petugas mampu mengontrol setiap benda yang masuk melalui x-ray . Monitor pertama untuk melihat unsur benda. Dan monitor kedua untuk melihat bentuk benda. Dalam tahap pemeriksaan, operator harus jeli karena yang bersangkutan menjadi decision maker.

 

Bandara Sepinggan Balikpapan memiliki x-ray  yang tersebar mulai dari pintu depan, pemeriksaan bagasi terminal kedatangan, dan menuju ruang tunggu terminal keberangkatan. Setiap penumpang akan menjalani pemeriksaan tahap akhir ketika menuju ruang tunggu. Di sana, terdapat enam x-ray  dengan jumlah petugas sekitar 61 orang dalam satu kali shift. Total keseluruhan ada 150 petugas yang dibagi dalam tiga bagian.

 

Mulai dari keamanan. Yaitu pemeriksaan penumpang, CCTV, dan public area. “Ada instruksi kerja bagi petugas Avsec dalam menyortir barang. Mereka juga mengisi absen, jadi ketika ada komplain dari penumpang bisa diketahui petugas mana yang menanganinya,” katanya.

 

Selain itu, petugas Avsec juga harus memiliki lisensi dalam bekerja. Ada pelatihan khusus yang diberikan bagi mereka. Petugas dengan lisensi basic (dasar) bertugas untuk memeriksa penumpang. Sedangkan hanya petugas dengan lisensi junior yang dapat mengoperasikan x-ray .

 

Cara kerjanya, dalam satu jam terbagi dua shift. Yakni 20 menit mengoperasikan x-ray dan 40 menit memeriksa penumpang. Sehingga kejelian petugas terjaga ketika mengoreksi barang lewat x-ray . “Petugas Avsec akan menjalani recurrent setiap dua tahun sekali. Tujuannya untuk menguji kembali kemampuan petugas. Mereka diuji dalam computer based test (CBT), tidak boleh lengah dan harus fokus,” tuturnya.