• Local Phone

    021 8690 6777

    021 8690 6770

  • Whats App

    0816 1740 8925

    0816 1740 8927

    0812 8006 9024

    0813 8742 8586

  • Whats App

    0812 9595 7914

    0878 7867 0721

    0812 1470 6170

    0813 1066 1358

    0888 6129 511

  • Email

    marketing.xray@taharica.com

Capture1.PNG

Warga Negara Inggris Kedapatan Membawa 655 Psikotropika

Petuga Bea dan Cukai meberikan barang bukti sebuah obat psikotropika yang dibawa oleh seorang berkewenegaraan Inggris berinisial ASH pada saat jumpa pers di kantor Bea Cukai Ngurah Rai, Denpasar, Kamis (22/2/2018). Warga negara asal Inggris ini yang menggunakan pesawat terbang tujuan Bangkok-Denpasar tersebut ditangkap pada saat tiba di Bandara Ngurah Rai karena kedapatan membawa 655 butir tablet psikotropika tanpa izin.

Warga negara asal Inggris ini berinisial ASH (48) yang kedapatan membawa 655 butir psikotropika  golongan IV yang mengandung diazepam akan dilakukan penindakan tegas oleh petugas Bea cukai Ngurah Rai, Bali.

"Dari pemeriksaan mendalam terhadap barang bawaan tersangka ASH, telah ditemukan satu botol plastik dengan label merek Solina dan Diazepam tablet BP 5 ml yang berisikan 655 butir tablet yang bertuliskan Centaur," kata Kabid Penindakan dan Penyidikan Kanwil DJBC Bali, NTB dan NTT Husni Syaiful dalam pertemuannya di Kuta, (22/2/2018).

Dari hasil penggeledahan oleh petugas, terdapat sebuah dokumen yang menyerupai resep yang ditunjukan ASH, namun disitu tertera konsumsi yang dianjurkan adalah diazepam 2mg tablet sebanyak 42 tablet.

Atas dasar perbedaan tersebut tersangka ASH diduga melanggar Pasal 102 huruf e dan 103 huruf c Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Mepabeanan dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. "Motif tersangka membawa obat-obat tersebut, untuk dikonsumsi sendiri karena tersangka mengaku megalami masalah medis dalam tubuhnya," ujarnya.

Petugas juga telah melakukan pemeriksaan tersangka ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan dan berdasarkan keterangan dokter, tersangka juga tidak mengalami adiksi atau ketergantungan namun ada kekhawatiran obat ini tidak tersedia di Indonesia.

"Kepada petugas, tersangka mengaku saat kondisinya mulai menurun karena dadanya sering mengalami sakit dan diabetes basah tersangka ASH langsung mengkonsumsi obat ini, karena obat ini bisa langsung menurunkan sakit yang dialami oleh tersangka," Tuturnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Ngurah Rai, Himawan Indarjono juga menambahkan petugas melakukan penindakan kepada pria berkewarganegaraan asal Inggris ini saat tiba di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali yang menggunakan maskapai penerbangan AirAsia FD 398 dengan rute Bangkok -  Denpasar, (24/1/2018).

Tersangka yang berprofesi sebagai Computer analyst, kemudian diperiksa petugas karena sejak awal sudah mengtensi attensi atau menjadi tergeting analis. Saat akan melewati area pemeriksaan Bea Cukai yang kemudian setelah itu dilakukan proses pemeriksaan xray security scanner (Baggage inspection ).

Hasil dari pemeriksaan xray security scanner  (baggage inspection) tersebut memperlihatkan bahwa ada barang yang mencurigakan. Atas dasar tersebut, penumpang yang diketahui berkewarganegaraan Inggris ini diperiksa lebih mendalam di ruang pemeriksaan. Akibat perbuatannya, tersangka ASH dapat dijatuhi hukuman pidana penjara dengan masa tahanan paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak 300 juta.

Berdasakan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2017, Diazepam termasuk dalam Daftar Psikotropika Golongan IV. Mengacu kepada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, Psikotropika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan atau ilmu pengetahuan dimana bagi wisatawan atau warga negara asing yang memasuki wilayah negara Indonesia.

Pemilikan dalam jumlah tertentu dapat dilakukan sepanjang digunakan hanya untuk pengobatan atau kepentingan pribadi dan yang bersangkutan harus mempunyai bukti bahwa psikotropika berupa obat yang diperoleh secara sah.